loading...

5 Hal ini Akan MembuatMu Bangga Menjadi Jomblo....


Seorang jomblo nampaknya lebih menarik utk ditimpuki daripada orang gila, pun lebih menakutkan dari kuntilanak yg nyamar jadi polantas lalu nilang tanpa surat tugas. Euh.

Dipercaya atau tdk, hari ini jomblo dianggap sebuah penyakit yang kronis sampai-sampai berdosis-dosis motivasi tidak cukup sanggup mengobati kesedihan akibat dari kejombloannya itu. Kita bisa lihat dampaknya, kantung air mata mereka kering terkuras habis; meratapi nasib, hatinya sudah kosong tanpa setitik perasaan apapun. Dalam ratapannya mereka selalu bersyair,

Dalam lembaran hari yg manakah engkau ‘kan berhenti bersembunyi? Aku takut terbiasa sendiri, lalu lelah mencari.

Oke. Prolognya lebay. Tapi … boleh juga.

Tapi di sini, saya akan coba mengcounter attack anggapan orang kebanyakan mengenai status jomblo seseorang.

Saya akan sedikit membahas perihal kelebihan yg dimiliki seorang jomblo dibandingkan mereka yg berpacaran. Tetapi sebelum itu, cek dan siapkan sabuk pengaman, arahkan pandangan lurus ke depan, lalu pancangkan di dalam hati: Aku jomblo dan aku bangga!

Dzikirkan 33x.

Sudah? Baik, sekarang saatnya ke bahasan utama. Inilah 5 fakta yang membuatmu, hei jomblo! lebih baik dari mereka yang berpacaran.

1. Jomblo itu Lebih Banyak Waktu

Seorang jomblo benar-benar akan terbebas dari rengekan manja tanpa makna dari pacarnya. Minta diantar ke sini lah, ke situ lah. Pengin ini lah, pengin itu lah, dan lain-lain, dan lain-lain.

Jangan protes.

Sebaliknya, seorang yang berpacaran hari-harinya akan penuh dengan hal demikian.

Tabiat seorang perempuan memanglah seperti itu, manja dan cerewet bukanlah sesuatu yang harus disalahkan. Tetapi masa iya … sama pacar, yang belum tentu sampai di pelaminan sampai segitunya? Hei, ibumu nyuruh beli gas ke warung apa sudah dituruti? Euh~

Saya kasih tau, ya, orang-orang yang berpacaran itu waktu berharganya terbuang di dua tempat.

Menerjemahkan apa maksud dari permintaan pacarnya (Wanita itu berbelit-belit, lapar aja malah bilang ‘warung makan itu rame, ya?’ Ngaku gak?)
Menuruti apa yang diminta pacarnya dengan tambahan-tambahan yang lain (Iya, mintanya dianterin aja, padahal maunya ditemenin sampai beres. Ngaku gak?)
Sudah bukan rahasia umum kalau wanita itu sulit dimengerti, bahasan tentang mereka tidak akan ada habisnya. Mereka itu menuntut kepekaan dan perhatian.

Nah, bagi kamu yang jomblo, akan terbebas dari semua itu. Aaaahhhh~

Oleh karenanya, seorang jomblo bisa lebih banyak mengabdikan waktu untuk ibu dan ayah, yang sudah jelas-jelas menjadi Surga-Nerakanya.

Gini, deh, saya tanya sama yang pacaran; mana yang lebih banyak kalian pikirkan? Kabar pacar atau orang tua? Berapa lama response time kalian ketika ibu meminta dan pacar menyuruh untuk melakukan sesuatu?

Selanjutnya, dengan keleluasaan waktu, seharusnya seorang jomblo bisa lebih fokus mengerjakan hal-hal yang bermanfaat; tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain, fokus mengejar cita-cita. Kalau sukses, siapa yang akan bahagia? Kamu tahu sendiri.

2. Jomblo itu Lebih Bebas

Bebas. Lepas. Tinggalkan semua beban yang ada di hatiku. Melayang ku melayang jauh, melayang ku melayang.

Nyanyi ya?

Begini, seorang jomblo itu bebas; tidak terikat dengan siapapun. Dia tidak akan pusing mendadak karena pacar ngambek tiba-tiba hanya karena bbm telat dibalas 5 detik saja. Duh.

Tidak perlulah mengelak, yang pacaran memang didominasi orang-orang demikian. Hal yang sepele dibesar-besarkan, seakan-akan bisa menjadi pemicu perang dunia III.

Tidak berkirim kabar saja sudah dianggap tidak sayang, kerja kelompok sama rekan kuliah saja dianggap sudah melakukan tindakan perselingkuhan secara terselubung. Ouh~

Si pacar sudah berlagak lebih intelijen dari FBI, lalu menginterogasi tiba-tiba tanpa surat pemberitahuan dulu.

“Tadi sama siapa?”

“Ngapain aja”

“Di mana?”

Padahal sudah tau jawabannya apa, tapi tidak mau menerima. Yang dia inginkan adalah pengakuan bahwa rekan kuliah tadi adalah … selingkuhannya. Lalu bertengkar.

Tersangka dugaan perselingkuhan akan dikenakan pasal nomor sekian, sekian, dan sekian dari KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pacaran) dengan hukuman didiem-in selama beberapa waktu, atau paling ringan adalah dengan pesan kita dibalas sekenanya; pendek-pendek.

“Oh.”

“Iya.”

“Nggak apa-apa, kok.”

Kepaksa, deh, minta maaf untuk sesuatu yang tidak terjadi. Rela? Ya rela saja, kan demi kelanggengan hubungan. Huek.

Hal tersebut akan secara berkala dirasakan oleh orang yang berpacaran. Berbeda dengan seorang jomblo yang bisa dengan pede bernyanyi,

Begini nasib jadi bujangan, ke mana-mana, asalkan suka, tiada orang yang melarang~

Nah, seorang jomblo yang terbebas dari semua itu—seharusnya- pikirannya akan lebih jernih, lalu menelurkan ide-ide yang eureka banget.

Kesadaran dalam menerima status jomblo menandakan bahwa kita itu punya hati yang besar, cobalah untuk kemudian berpikir besar. Banyak permasalahan-permasalahan bangsa dan ummat yang butuh penyelesaian dengan cara-cara yang beda.

Ingat-ingat terus kalau masa muda kita akan dipertanyakan untuk apa. Mengurusi pacar? Atau mengurusi masyarakat? Hei, akhir kehidupan kita di dunia ini bukan menikahi pacar, tetapi menikahi kematian.

Siapkanlah mahar terbaik.

3. Jomblo itu Lebih Kaya

Seharusnya, seorang jomblo itu bisa mapan lebih muda. Iya. Bila saja mereka sadar bahwa kesendirian adalah sebuah aset berharga yang bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang berlimpah.

Coba, deh, ubah mindset kita. Jomblo = solo karier.

Dengan keleluasaan waktu dan pikiran yang bebas, seharusnya seorang jomblo bisa lebih kaya daripada mereka yang berpacaran, minimalnya belajar mandiri membuka usaha untuk masa depan.

Bila disebut ‘jomblo’, ‘tidak laku’, atau panggilan sejenisnya saja sudah kebal, seharusnya sudah tidak ada lagi gengsi untuk menenteng box makanan; berjualan di kampus / sekolah, atau bahkan mendorong gerobak dagangan ke area CFD, misalnya.

Hal tersebut, dipercaya atau tidak, merupakan aset bagi hati dan masa depan. Coba deh baca kisah-kisahnya orang sukses dulunya mereka gimana.

4. Jomblo itu Lebih Berprestasi

Sebenarnya, jomblo dan prestasi itu erat sekali kaitannya. Tetapi tidak semua jomblo dianugerahi hal ini.

Sadar adalah koentji.

Iya, yang pertama kali harus kita lakukan sebagai seorang jomblo adalah sadar bahwa kita punya waktu lebih dan pikiran yang bebas, apa lagi yang kita butuhkan?

Ayo bangun! Daripada menggarap pacar lebih baik menggarap tugas, menggarap mimpi, menggarap apapun yang dapat melesatkan kita menuju masa depan yang cerah.

5. Jomblo itu Lebih Terjaga

Ini poin pentingnya. Dari keempat hal yang saya sebutkan di atas, kelebihan seorang jomblo yang pasti tidak dimiliki seorang yang bergiat dalam dunia pacaran adalah: keterjagaan.

Seorang jomblo akan terjaga dari segala bentuk polusi pikiran maupun fisik yang menjurus pada zina. Jangan sekali-kali menganggap bahwa zina itu hanya dilarang pada klimaksnya saja, tetapi bahkan sejak dari peristiwa pengantarnya pun sudah dilarang.

Allah ‘kan sudah berfirman dalam Al-Qur’an, Laa taqrabuzzinaa, jangan mendekati zina. Lagi, zina itu banyak macamnya; ada zina mata dengan melihat, zina telinga dengan mendengar, zina tangan dengan menyentuh, zina kaki dengan melangkah, bahkan zina pikiran dengan berangan-angan. Ada haditsnya.

Seorang jomblo yang baik harus paham bahwa kesendirian bukanlah dosa; melainkan sebuah kesempatan besar yang tidak semua orang dapat memaknainya.

Allah sedang ingin dekat dengan kita, oleh karena itu Ia tidak memperkenankan kita menerima rasa cinta dari seorang makhluk yang tidak jelas juntrungannya.

Dengan sebuah keyakinan yang pasti bahwa Allah menciptakan makhluk berpasang-pasangan, seorang jomblo; kita, tidak boleh terlalu memikirkan masalah percintaan. Semuanya sudah diatur.

Hal-hal yang sudah ditakdirkan bagiannya, tetapi diragukan kedatangannya akan membuat hati kita buta.

Seperti maqolah yang diutarakan oleh Ibn Atha’illah dalam Kitab Babon Sufi Al-Hikamnya,

Salah satu tanda butanya mata hati adalah kau mengejar dengan semangat apa yang sudah ditakdirkan untukmu, tetapi loyo dalam memenuhi apa yang diminta darimu

Jadi bagaimana?

Mari untuk memulai sesuatu yang baru. Jangan minder menjadi seorang jomblo, sebab itulah sebaik-baik kesempatan di masa muda, fokus saja pada cita-cita.

Mari untuk mengibaratkan jomblo sebagai puasa kasih sayang pacar; sembari menunggu berbuka dgn melakukan hal-hal yg bermanfaat.

Berbuka… dgn 2 kebahagiaan.

Menikah (setelah sekian lama berpuasa; mejaga diri)
Bertemu Allah dgn pribadi yg lebih baik
Mari sekali lagi katakan, “Aku Jomblo dan Aku Bangga!”

http://satriabajahitam.com/jomblo-happy-sampai-halal/
loading...
close
[Klik disini 2X] [ X ]