loading...

Pak ustadz, Bermesraan Melalui Telepon Sampai "Basah", Bagaimana Hukumnya?

Pak ustadz, aku ingin bertanya. Saat ini aku menjalin hubungan jarak jauh dgn seseorang yg insya Allah niat kami baik. Terkadang kami ngobrol lama di telepon dan kadang-kadang dia merayu aku dan aku tanpa sengaja menjadi " basah." Yang menjadi pertanyaan, perlukah aku mandi wajib dan sahkah sholat saya?



Atas jawabannya diucapkan terimakasih

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau yg Anda maksud dgn basah ialah keluar [m.4.n.i], atau biasa disebut dgn [3.j.4.k.u.l.4.s.!], maka Anda wajib mandi janabah. Karena salah satu yg mewajibkan mandi janabah ialah keluarnya [m.4.n.!] (s.p.3.r.m.4), oleh karena apapun. Baik sebab hayalan, [0.n.4.n.!], sakit atau interaksi [s.3.k.s.u.4.l] halal dan haram. Kesemuanya mewajibkan mandi janabah.

Tetapi kalau yg terjadi bukan ‘basah’ sebab [3.j.4.k.u.l.4.s.i] dan bukan [s.p.3.r.m.4] yg keluar, melainkan cairan bening sebelum keluarnya [m.4.n.i], maka hal itu tak mewajibkan mandi janabah. Yang keluar ialah wadi, bukan [m.4.n.i].

Ciri wadi sangat berbeda dgn [m.4.n.i]. Di antara perbedaannya ialah bahwa wadi itu berbentuk bening, tak kental seperti [m.4.n.i]. Wadi itu tak keluar dgn memancar, melainkan keluar merembes perlahan. Wadi keluar tak disertai lazzat (kenikmatan), sedangkan [m.4.n.i] keluar diiringi dengan kenikmatan. Wadi apabila telah kering tak meninggalkan bekas seperti lilin (kerak), sedangkan mani meninggakan bekas seperti lilin.

Namun para ulama mengataka bahwa [m.4.n.i] itu tak najis, sehingga meski ada residu di pakaian, tak ada kewajiban buat mencucinya. Sebab diriwayatkan bahwa dahulu nabi Muhammad SAW pernah shalat dgn baju yg masih ada residu [m.4.n.i] yg telah kering.

Sedangkan wadi hukumnya najis. Sehingga bila membasahi celana, wajib disucikan dgn cara mencuci bagian najis itu dengan air, hingga hilang warna, rasa dan aroma najisnya.

Telepon [M.e.s.r.a]

Lepas dari hukum najisnya, telepon mesra yg Anda lakukan itu mungkin saja dimaklumi dengan alasan tertentu, asalkan dengan isteri sendiri. Misalnya, sebab tugas yang jauh dan tak mungkin bertemu. Untuk mengobati kangen antara suami isteri, mereka boleh saling bertukar kabar dgn mesra.

Namun bukan berarti boleh melakukan [0.n.4.n.i], sebab banyak dari para ulama punya pandangan yg tak membolehkannya. Meski tetap ada sebagian yg membolehkannya dgn syarat kondisi tertentu. termasuk melakukan [0.r.4.l] [s.3.k.s] terhadap suami saat istri sedang haid ada sebagian ulama yg memperbolehkannya dgn syarat dengan istri sendiri yg sudah halal.

Namun saat ‘telepon mesra’ dilakukan bersama dgn wanita yg bukan isterinya, maka seharusnya tak boleh dilakukan. Apalagi jika sampai terjadi ejakulasi segala. Selain terkena hukum embargo buat berkhalwat, juga memberi akibat yg buruk pada norma dan moral. Dan cara seperti ini sudah termasuk wilayah [z.i.n.a] yg haram.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: http://www.bringislam.web.id/
loading...
close
[Klik disini 2X] [ X ]